FENOMENA MOTOCROSS JATIM : Dilema, Antara Kuda Besi & Prestasi

Performa kuda besi & skill crosser butuh balans

Fenomena kurang meratanya performa kuda besi special engine yang biasa dipakai laga di kelas MX2 Novice dan Open, menarik untuk dicermati. Opini macam "bertepuk sebelah tangan" seakan mengemuka, skill mampu tapi kuda besi tak mumpuni. Konteks demikian yang menjadi pemicu prestasi crosser tak sebanding dengan jam terbang.

 
Terlebih lagi, rata-rata crosser di Jatim bernaung di MX Training, yang komplit dari sisi maintenance lingkup tekhnisi dan instruktur skill membalap sampai trainer fisik. Nah, ketika terlanjur berlaga dan even berjalan, antara training skill, fisik dan maintenance kuda besi tak seimbang. Terkesan fisik dan skill yang terus dihajar sampai klimaks.

Statetmen kritis dan membangun dilontarkan Abah Kholik owner tim DUA Telur Intan Malang. Menurutnya, special engine yang dipakai latihan dan even, harus dibedakan. Cuman, pemakaian kuda besi even, sebaiknya juga diminimalisir dan tepat guna.

H. Wawan owner tim Rizqy Motor Boss Mild Rastel Bold, Pasuruan kuda besi tahun terbaru lebih unggul



Contohnya seperti ini, misal berlaga di trek atau sirkuit pendek-pendek yang tak membutuhkan 100% performa kuda besi, nah bisa disikapi memakai kuda besi yang biasa dipakai training. "Kecuali, berlaga di sirkuit yang membutuhkan performa mesin extra, seperti trek Kelud, Arca Tondowongo, Brigif Kediri dan Banjarsari, Jombang kemungkinan lebih pas memakai special engine yang diperuntukkan buat even, "urai Abah Kholik.

Dudung, Zusri & Janal Chunk tim dudung jaharun center, deli serdang medan



Pendapat seperti itu turut dibenarkan oleh H. Wawan owner tim Rizqy Motor Boss Mild Rastel Bold, Pasuruan. Pengusaha rokok asal Pasuruan itu memiliki pertimbangan lain. Coba dinalar ya, setiap crosser ketika ditinjau prestasinya selalu ada ambisi pingin jadi jawara dan nomer satu. Strategi setiap tim pasti selalu ada, terlepas dari training skill dan fisik. Dari situ saja, bisa dianalogikan kalau prasarana dan infastruktur wajib menunjang di setiap tahunnya.

Abah Kholik & crew DUA Telur Intan, bedakan kuda besi training dan even



Itu juga yang menjadi alasan, mengapa pabrikan special engine meluncurkan varian terbarunya di setiap tahun. Saya yakin, mereka juga beradu gengsi untuk meluncurkan kuda besi yang reliable dan menjadi pilihan crosser. Pertimbangan itu juga yang menjadi alasan saya belanja KTM 250 SX-F versi 2018. "Dan memang performanya berbeda lebih baik dari tahun sebelumnya, "nilai H. Wawan yang sukses menghantar Lantian Juan makin bersinar prestasinya di kelas MX2 Open.

Cuman dari pengalaman pribadi, terkait polemik kuda besi training dan even, layaknya, turut ditunjang dengan fisik crosser yang extra. Jadi, tak perlu lagi bicara skill, tapi fisik yang memang extra. "Ditekankan, agar ritme performa kuda besi bisa sejalan dengan grafik fisik crosser, "timpal Janal Chunk crosser executive dari DQ Motor yang belakangan menjadi mentor tim Dudung Jaharun Center, Deli Serdang, Medan.


DISTRIBUSI SPECIAL ENGINE KURANG MERATA & VARIATIF
Sisi lain, kurang merata dan variatifnya importir atau diler special engine semua merk yang biasa dipakai kompetisi, kemungkinan bisa menjadi pemicunya. Kalaupun ada cuman beberapa diler yang berani buka, itupun satu merk, seperti Huqvarna yang dikelola Daniel Tangka juga pemilik tim Djagung Racing Factory, Malang. Malahan info terbarunya, biaya import makin meningkat yang kurang logis dan realistis kalau didengar, eh dibaca.

Problem itu pula, akhirnya lalu lintas jual beli special engine  berjalan antar tim, kolektor dan penghobi. Beli special engine bekas menjadi second opinion. Kendati namanya special kuda besi kalau bekas, tetap butuh maintenance, terkait clearence, speling, maping pengapian, maping injector, yang pengaruhnya paling besar terhadap semburan power.

Selebihnya tingkat centre - balancingnya rangka, kalau saat ini pengujiannya masih hasil test case dan feeling. Sejauh ini belum ada alat yang bisa mengeluarkan data akurasi tingkat senter dan balancingnya. Terkecuali faktor suspensi, yang sudah ada penanganan profesional dan terdata, seperti yang dijalankan oleh Johny Pranata.

Mungkin pada aspek jual beli special engine, pengadaan dan distribusinya, setiap Pengprov IMI Jatim dapat andil memberikan kontribusi terkait kemudahan belanja special engine yang lebih variatif dan sesuai kebutuhan crosser dan tim. Agar kompetisi motocross hadir tetap obyektif.