selamat datang di ototrend.com
edisi 363
 
minggu ke-I April 2008
MOTOGP
                   

Foto : motogp

PREVIEW GP JEREZ
MEMBALIK STATISTIK !

Flashback 2007, Stoner menang di seri pembuka Qatar. Kemenangannya pun cukup mencolok, unggul di trek lurus hingga Yamaha geberan Rossi dan joki lain makin ketinggalan.

 

Musim ini pun, lagi-lagi Stoner melakukan perfect start. Tak mengemas pole, tapi akhirnya meraih podium teratas di Qatar. Seri berikutnya di Jerez 2007, giliran Rossi yang menang, membalikkan fakta sekaligus menaikkan moral Yamaha yang kalah power di trek lurus. Nggak heran, #46 melakukan selebrasi ala bola bowling. Apakah trend ini berlanjut di Jerez 2008 ?

Satu hal, karakter trek Jerez beda jauh dengan Losail, tak ada straight lurus sepanjang Losail. Jerez menyediakan beragam tantangan buat pembalap dan engineer.

Variasi tikungannya komplit, tapi rata-rata tikungannya adalah tikungan cepat, cocok buat motor apapun yang digeber oleh joki ber-skill tinggi. Bagi engineer, ini jadi peer tersendiri karena mereka harus bisa menyeimbangkan power.

Di GP Jerez 2007, catatan waktu kualifikasi cukup ketat, gapnya mepet. Bahkan kualifikasi jadi rekor tersendiri karena tiga pembalap di grid start depan hanya berjarak 0,058 detik saja.
Sekarang, problem para pembalap B-Stone adalah kualifikasi. Ini terlihat di Qatar lalu, tiga starter di depan adalah joki Michelin. Pun dialami oleh Valentinik, yang jadi satu-satunya pembalap garputala non-Michelin. Ban kualifikasi B-Stone masih dibawah Michelin, tapi ban race sepertinya selevel.

Buktinya, Stoner mampu menang meskipun hanya start dari grid dua. "Dua tiga lap ban sepertinya kurang lengket, tapi kemudian motor dan ban makin padu, ritme dan konfiden terjaga dan saya bisa menang," ucap Stoner, setelah menang di Qatar.

Menilik statistik Jerez 2007 lalu, Michelin justru unggul saat race. Strateginya, selepas start langsung berusaha kabur. Jika biasanya, Rossi membuat pukulan di lap-lap pamungkas, #46 langsung melesat. Apalagi, joki-joki Bridgestone malah terlambat panas. Stoner start dari grid tengah dipaksa kerja keras dan baru pertengahan balapan menemukan ritme kecepatan. #1 masih sanggup finish lima besar.

Hasil test awal musim ini, termasuk IRTA Jerez pun mirip. Stoner masih sempat meraih hadiah BMW tapi dia bukanlah yang tercepat karena justru duo Repsol Honda yang merajai trek sepanjang 4423 meter ini.

"Jujur, balapan tahun lalu bukanlah best race bagi kami, tapi testing musim ini di Jerez berjalan cukup baik, jadi kami bisa kompetitif," yakin Stoner.

Hanya saja, statistik ini di atas kertas. Bisa jadi, race bakal lebih alot. Pasalnya, tidak ada pembalap yang bakal dominan musim ini karena kekuatan mesin, ban serta komposisi tim sangat merata. Satu hal, euforia penonton Spanyol cukup tinggi, tak kurang 250 ribu penonton memadati Jerez tiap tahunnya, ini bekal bagi pembalap lokal seperti Pedrosa, Elias atau Lorenzo.

Yang jelas, Pedrosa mengakui jika sudah melakukan persiapan fisik lebih daripada turun di Qatar lalu. "Saya rutin training, memperkuat lengan kanan agar bisa full 100% fit di Jerez," ungkap Pedrosa.

Bagi Lorenzo, menang di Jerez bakal sangat berarti, mengingat tiga musim terakhir selalu mendulang podium. Apalagi, tensi rivalitasnya dengan sesama Spanish juga meninggi, menyusul ulah Pedrosa yang tidak mau ngasih ucapan selamat kepadanya di GP Qatar lalu. Siapa yang menang, kita tunggu akhir pekan ini ! n punk

 


Foto : Yamaha

PREVIEW GP JEREZ
PERANG SKILL + POWER DELIVERY

Musim lalu, faktor kekurangan Yamaha adalah top end power. Dilibas abis oleh Ducati dan Honda.

Musim lalu, faktor kekurangan Yamaha adalah top end power. Dilibas abis oleh Ducati dan Honda. Sekarang, ini bukan jadi persoalan dan kelemahan, mengingat gain (jarak) mereka dengan pabrikan lain merata. Apalagi, M1 sudah dijejali oleh perangkat pneumatik baru, bukan halangan oleh pembalap-pembalap pabrikan Yamaha.

Di sisi lain, Ducati pun tidak lagi memperkuat sisi power dan top speed tapi lebih mengutak atik power delivery dan keseimbangan handling. Hasilnya luar biasa, motor Ducati yang era 2003-2005 terlihat liar, terasa smooth dua musim belakangan. Tinggal siapa joki di balik setir GP8.

Faktanya, hanya Stoner yang bisa cepat, so ada yang 'salah' dengan tiga joki Ducati lain.
Fakta di Qatar, pembalap yang bukan dengan motor kenceng dan cepat pun bisa leading. Faktanya, James Toseland dan Colin Edwards, yang masih memakai M1 lawas berjeroan spring bisa start dari baris depan.

Padahal, motor ini kalah 10km/jam dari M1 pneumatik geberan Rossi dan Lorenzo. Bahkan, terlambat antara 12-15 km/jam dari GP8 dan RC212V Pedrosa. Keunggulan Toseland adalah, mampu memanfaatkan celah di tikungan, juara dunia Superbike ini unggul di sektor tertentu.
n punk

 

© 2002 ototrend.com ototrend® is a registered trademark
and the ototrend logo are trademarks of pt media oto indonesia, jawa pos