Raffi "Tangka" Geraldio : Go to Europe, Pertajam Skill & Obsesi Kembangkan Usaha Ortu

Rafi Tangka in action

Lahir dan besar dari keluarga racing, kian memacu sosok crosser yang akrab disapa Rafi Tangka itu, ringan mengejar prestasi di dunia motocross. H. Daniel Tangka dan Hj. Umi Latifah ortunya yang lebih dulu menggeluti motocross, turut menjadi mentor setia Rafi, hingga berada di puncak kariernya saat ini.



Cuman, di awal perjalanan kasih sayang dan pengertian yang menjadi dilema Rafi untuk menekuni motocross. Sebab, Hj. Umi Latifah pernah merasa keberatan lantaran tahu resiko motocros.

Rafi Tangka, all out go to europe pertajam skill



Tapi, dari kemauan keras Rafi yang terobsesi menitih karier hingga ke Eropa untuk mendalami motocross itu, akhirnya munculah mufakat dan doa seorang mama yang mengiringi karier Rafi hingga mensuport sepenuhnya sampai saat ini. Berikut hasil wawancaranya saat ditemui di workshop Husqvarna di Jl. Mayjend Sungkono, Buring, Malang

Hj. Umi Latifah, suport sepenuhnya



Bisa diceritakan awal mula terjun di dunia motocross ?
Mulai awal start turun di balap tahun 06 di kelas 50 cc, cuman untuk mengawalinya naik BMX dulu, bisa dibilang fisik ringan saat itu sekaligus belajar naik motor. Jadi terhitung sangat belia, sebab saya masih berumur 6 tahun. Lucunya, pertama kali saya dan motor saat itu berani-berani takut, sebab kalau lihat orang pakai helm takut om. Dan awal-awal menekuni motocross, mama sempat keberatan.

Tahun 2008 saat naik 65 cc jarang ikut balap, tapi kalau latihan masih sering ikut papa dan hingga 2011 activitynya cuman begitu terus. Hingga di tahun 2014 keinginan untuk membalap di motocross tetap menyala dan hasrat pun makin tinggi. Sepakat akhirnya papa dan mama dengan perdebatan yang panjang, menitipkan saya sekolah di om Johny Pranata di Johny Pranata MX Academy, di seputaran Kebun Raya, Purwoasri, Pasuruan.

Pertimbangan dari postur saya yang makin subur, om Johny kemudian menyarankan langsung berlaga di kelas special engine 250 cc grade C, kendati masih boleh di 85 cc. Cuman, postur terlalu besar saat naik 85 cc. Sejak di 2014 itu pula, saya kembali konsentrasi berlatih fisik dan training skill. Total selama 2 bulan, om Johny menyatakan siap kemudian aktif berlaga di special engine 250 cc grade C, saat di 2015.

All out training fisik



Infonya di tahun itu juga Rafi mampu berprestasi ya ? apa sih rahasianya kok begitu mudah menuai hasil yang signifikan padahal sempat vakum berlaga di motocross ?

Ya mungkin talenta terpendam sejak kecil yang mampu menjadi modal terbesar, sebab dari situ ada keinginan yang kuat mendorong saya untuk bisa dan mampu. Selain itu, percepatan atau lebih awalnya saya untuk dihadapkan di kelas yang lebih tinggi. Pastinya juga hasil gemblengan latihan fisik dan training skill dengan om Johny, serta support dan doa dari mama papa. Untuk prestasi di 2015 mampu mengakumulasi total point kedua special engine 250 cc grade C di kejuaraan motocross level nasional. Oh ya om saya juga punya om Bambang pit crew spesial dan paling istimewa, sebab dengan dia kuda besi saya selalu fit dan nol trouble. 

Mempertahankan prestasi lebih susah, lantas apa resep yang Rafi pakai hingga makin meroket prestasinya sejak saat itu ?

Intensitas mengikuti even motocross diperbanyak, baik kejurda, kejurnas dan even open motocross. Kata papa dan om Johny buat mempertinggi jam terbang, serta pembekalan mental bertanding. Memang mental juga penting sih om, saat berada di puncak karir saat itu, selain rutin latihan fisik dan skill membalap. Metodhe mendidik dan padatnya activity di motocross demikian itu pula, akhirnya di kejuaraan nasional motocross 2016, saya mampu mengejar impian om sebagai the best crosser  MX 2 Novice dengan menyandang champion MX 2 Novice di 2016, dengan kuda besi Husqvarna.
 
Dengan suksesnya menjadi juara MX2 Novice di tahun itu, apresiasi apa saja yang anda dapatkan saat itu ? Lantas kegiatan apa lagi ketika sudah pernah menjadi juara MX2 Novice ?

Hahaha, sponsor utama tetap Djagung pabrik rokok milik keluarga mama, ketika di 2016. Kemudian di 2017, Husqvarna merapat menjadi co sponsor, juga ada Pertamax, Orca dan Dunlop. Euforia menjadi crosser nasional makin terasa, latihan dan terus berlatih, makin tak terasa menjadi rutinitas seperti sekolah. Seakan tak lagi menjadi kewajiban, melainkan inisiatif dan panggilan hati di setiap pulang sekolah, meskipun pernah menjadi juara MX2 Novice. Hingga seminggu, bisa berlangsung 4 sampai dengan 5 kali. Cuman, kadang berlatih sendiri bersama om Bambang saat di Plengkung, Malang. Tapi tetap ada jadwal khusus untuk berlatih di Lamongan bersama om Johny dan om Along.

Apa sih pandangan Rafi terhadap motocross, hingga Rafi merasa enjoy dan menikmatinya ?

Saya pernah mengutip dari petuah pujangga Yunani om Aristoteles, dia pernah memberi wejangan di jamannya seperti ini, “Kesenangan dalam sebuah pekerjaan atau hobi, dapat membuahkan hasil yang dicapai lebih sempurna". Jadi, senang dulu om baru enjoy dengan motocross dan memang benar, hasilnya sempurna. Sebab membalapnya dengan hati. Dan bagi saya motocross itu, klop disebut sebagai basis balap roda dua, seperti road race dan supermoto.

Apa tarjet dan impian Rafi di dunia motocross ?
Kalau menyinggung tarjet pastinya ingin setinggi- tingginya om, Insya Allah melanjutkan kuliah di Belanda, jadi kuliah sambil membalap. Praktisnya, untuk mempertajam skill balap macam crosser dunia, sebab Belanda untuk saat ini bisa diklaim sebagai sentral crosser dunia. Selain sekolah balap juga ada keperluan sekolah business marketing strategy, untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis motocross yang pernah dibangun papa mama.

BIO DATA
Nama         : Raffi Geraldio
Kelahiran     : Malang 21 juni 2000
Ortu         : H. Daniel Tangka & Hj. Umi Latifah
Sekolah     : SD Taman Harapan, Malang, SMPN 21 Malang, SMAN 8 Malang